Di luar itu, adegan-adegan seperti "pernikahan" antara korban dan tuan, pemakzuman, dan adegan "makan feses" membuat film ini sering dikategorikan sebagai extreme art atau art horror yang tidak pantas untuk penonton biasa. Apakah film ini hanya pornografi berkedok seni? Ataukah ia sebuah mahakarya yang tidak bisa diabaikan?
Jika Anda tetap memutuskan untuk menonton, lakukan dengan hormat. Hormat pada korban fiksi di layar. Hormat pada korban fasisme sungguhan di masa lalu. Dan hormat pada diri Anda sendiri yang cukup berani menyaksikan kegelapan paling dalam, lalu kembali ke dunia nyata dengan kesadaran bahwa kekuasaan tanpa moral adalah neraka.
Pendahuluan: Sebuah Film yang Tidak Pernah Usai Membuat Kontroversi Ketika berbicara tentang film paling kontroversial sepanjang masa, nama Salò, or the 120 Days of Sodom (1975) karya sutradara Pier Paolo Pasolini hampir selalu berada di puncak daftar. Bagi penonton Indonesia yang mencari pengalaman sinematik ekstrem, frasa pencarian "I the 120 Days of Sodom sub Indo" bukanlah sekadar keinginan untuk menonton film biasa. Ini adalah undangan untuk menyaksikan sebuah eksperimen sosial, alegori politik, dan sekaligus ujian ketahanan mental. i the 120 days of sodom sub indo
Kontroversi utamanya adalah penggunaan aktor muda (mayoritas berusia 15-18 tahun) dalam adegan kekerasan seksual. Meskipun Pasolini bersikeras bahwa tidak ada eksploitasi nyata di lokasi syuting—dan semua adegan seks disimulasikan dengan tubuh pengganti atau trik kamera—dampak psikologis pada para aktor muda tetap menimbulkan pertanyaan etis.
– Kekerasan fisik meningkat. Lidah dipotong, kulit digerinda, dan gigi dicabut. Jika Anda tetap memutuskan untuk menonton, lakukan dengan
Kedua, Pasolini mengambil karya sastra ini dan memindahkan latarnya ke (1943-1945), sebuah negara boneka fasis Jerman di Italia utara. Ini adalah langkah cerdas sekaligus mengerikan. Pasolini tidak tertarik pada pornografi; ia tertarik pada kekuasaan absolut yang merusak . Dengan mengganti latar ke era fasis, Pasolini membuat kritik pedas terhadap kekuasaan, kapitalisme, dan konsumerisme yang menurutnya sama kejamnya dengan para bangsawan De Sade.
– Korban mulai dianiaya, dipukul, dan dipermalukan di depan umum. Dan hormat pada diri Anda sendiri yang cukup
Untuk pemahaman konteks Indonesia, cari diskusi di forum atau Reddit (r/TrueFilm) yang sering membahas perbedaan penerjemahan subtitle. Beberapa penggemar fanatik bahkan telah membuat subtitle Indonesia custom dengan anotasi untuk istilah-istilah sulit. Kesimpulan: Sebuah Film yang Harus Ada, Meski Tidak Perlu Ditonton Pada akhirnya, "I the 120 Days of Sodom sub Indo" adalah sebuah pencarian yang penuh paradoks. Anda ingin memahami salah satu karya seni paling ekstrem dalam sejarah sinema, tetapi Anda juga tahu bahwa pemahaman itu akan meninggalkan luka psikologis.